Sabtu

Amalan yang Melelahkan

Rangkaian ayat di awal surah ini bercerita tentang neraka dan para penghuninya.

Ternyata salah satu penyebab seseorang disungkurkan ke neraka adalah sebab amalan yang banyak dan beragam tapi penuh cacat; baik motif dan niatnya, maupun cara yang tidak sesuai dengan ajaran sunnah Rasul saw.
AstaghfiruLlaahal ‘azhim…

Alkisah, ‘Umar bin Khathab radhiyallahu 'anhu menangis saat mendengar ayat ini disampaikan...

Alkisah juga, suatu hari Atha as-Salami, seorang tabi`in bermaksud menjual kain yang telah ditenunnya. Setelah diamati dan diteliti secara seksama oleh sang penjual kain, sang penjual kain mengatakan,

“Ya, Atha' sesungguhnya kain yang kau tenun ini cukup bagus, tetapi sayang ada cacatnya sehingga saya tidak dapat membelinya.”

Begitu mendengar bahwa kain yang telah ditenunnya ada cacat, Atha' termenung lalu menangis.

Melihat Atha' menangis, sang penjual kain berkata,
“Atha' sahabatku, aku mengatakan dengan sebenarnya bahwa memang kainmu ada cacatnya sehingga aku tidak dapat membelinya, kalaulah karena sebab itu engkau menangis, maka biarkanlah aku tetap membeli kainmu dan membayarnya dengan harga yang pas.”

Tawaran itu dijawabnya,
“Wahai sahabatku, engkau menyangka aku menangis disebabkan karena kainku ada cacatnya?"

Ketahuilah sesungguhnya yang menyebabkan aku menangis bukan karena kain itu".

"Aku menangis disebabkan karena aku menyangka bahwa kain yang telah kubuat selama berbulan-bulan ini tidak ada cacatnya, tetapi di mata engkau sebagai ahlinya ternyata ada cacatnya".

"Begitulah aku menangis kepada Allah dikarenakan aku menyangka bahwa ibadah yang telah aku lakukan selama bertahun-tahun ini tidak ada cacatnya, tetapi mungkin di mata Allah sebagai ahli-Nya ada cacatnya, itulah yang menyebabkan aku menangis.”

Semoga kita menyadari sedini mungkin tentang amal yang kita lakukan apakah sudah sesuai ataukah tidak. Hanya dengan ilmulah kita akan mengetahui dimana letak kekurangan amal kita.

Maka bukan hanya dengan beramal sebanyak-banyaknya tapi juga beramal dengan sebenar benarnya.

Wallaahu a'lamu bish shawaab...

Label:

Jumat

Kematian adalah akhir perjalanan (?)

Inilah di antara tulisan terbaik Syekh Ali Thanthawi Mesir Rahimahullah:

Pada saat engkau mati, janganlah kau bersedih. Jangan pedulikan jasadmu yang sudah mulai layu, karena kaum muslimin akan mengurus jasadmu.

Mereka akan melucuti pakaianmu, memandikanmu dan mengkafanimu lalu membawamu ke tempatmu yang baru, kuburan.

Akan ada banyak orang yang mengantarkan jenazahmu bahkan mereka akan meninggalkan pekerjaan nya untuk ikut menguburkanmu.

Barang barangmu akan dikemas; kunci kuncimu, kitab, koper, sepatu dan pakaianmu. Jika keluargamu setuju barang2 itu akan disedekahkan agar bermnfaat untukmu.

Yakinlah; dunia dan alam semesta tidak akan bersedih dg kepergianmu.

Ekonomi akan tetap berlangsung!
Posisi pekerjaanmu akan diisi orang lain. Hartamu menjadi harta halal bagi ahli warismu. Sedangkan kamu yg akan dihisab dan diperhitungkan dari hartamu!

Kesedihan atasmu ada 3;

Orang yg mengenalmu sekilas akan mengatakan, kasihan.

Kawan2mu akan bersedih beberapa jam atau beberapa hari lalu mereka kembali seperti sediakala dan tertawa tawa!

Di rumah ada kesedihan yg mendalam! Keluargamu akan bersedih seminggu dua minggu, sebulan dua bulan, dan mungkin hingga setahun??
Selanjutnya mereka meletakkanmu dalam arsip kenangan!

Demikianlah "Kisahmu telah berakhir di tengah_tengah mereka
Dan kisahmu yang sesungguhnya baru dimulai, Akhirat!!

Telah musnah kemuliaan, harta, kesehatan, dan anak.

Telah engkau tinggalkan rumah, istana dan istri tercinta.

Kini hidup yg sesungguhnya telah dimulai.
Pertanyaannya adalah:

Apa persiapanmu untuk kuburmu dan Akhiratmu??

Hakikat ini memerlukan perenungan.
Usahakan dengan sungguh2;
Menjalankan kewajiban kewajiban, hal-hal yg disunnahkan, sedekah rahasia, merahasiakan amal shalih, shalat malam,

Semoga saja engkau selamat.

Andai engkau mengingatkan manusia dengan tulisan ini insyaAllah pengaruhnya akan engkau temui dalam timbangan kebaikanmu pada hari Kiamat.

"Berilah peringatan, karena peringatan itu bermanfaat bagi orang orang mukmin."

Label:

Selasa

si Bule tahun baru di Indonesia

si Bule itu kalau tahun baruan di Indonesia, pasti bakal
kaget.
Di negerinya, kembang api itu hanya diledakkan terbatas di tempat2 tertentu.

Di Indonesia, menyambut tahun baru orang2 bahkan membakar kembang api
meledak-ledak di komplek perumahan, digang-gang kecil, di pemukiman. Belum lagi tambahkan mercon dentam-dentum.

Welcome, mister, di negeri ini, frankly speaking sejujurnya 20 tahun lalu, tidak ada perayaan tahun baru macam ini.
Itu baru saja kami contoh dari kalian.
Tapi kami melakukannya 'lebih keren' kami modifikasi hingga bablas.

Apakah saya keberatan dengan perayaan tahun baru?

Tidak. Itu hak semua orang. Tidak jaman lagi berdebat soal ini. Karena toh, kalaupun saya mau berdalil bahwa tidak ada perayaan tahun baru sesuai contoh Nabi, eh ladalah, di mesjid2, orang2 ikut melakukan perayaan dengan modifikasi pengajian, kultum, musahabah, dsbgnya. Coba tanya ke mereka. Apa bedanya dengan perayaan si tapir ilusinati?

Jawabannya pasti gagah:
bedalah, satu islami, satu tidak islami. Yang membuat pusing kepala mendengar argumennya, jadi sekarang ada jenis perayaan tahun baru islami?

Saya tidak akan meributkan hal ini, dek. Bukan urusan saya. Situ mau naik motor, kelayapan pas tahun baru, atau berduaan di pantai, hotel dsbgnya, membuat maksiat, toh, orang tua kalian juga dont care at all. Kalian sendiri pun yang sedang merusak diri sendiri juga dont care at all.

Situ mau bikin acara apapun, khataman Al Qur'an, dsbgnya, menjadi ritual baru tiap tahun, toh, orang2 yang lebih berilmu dibanding saya tidak memberikan fatwa.

Lantas kenapa saya harus peduli?
Essay ini saya tulis, simpel karena saya ingat dengan Bung Karno. Aih, kalau si Bung Karno ini masih hidup, maka apa
komentar dia tentang "bangsa yang kehilangan identitas"?

Lihatlah negeri ini, barat bukan, timur jauh. Kita bergaya kebarat-baratan merayakan ulang tahun (secara harfiah tahun baru itu tahunnya diulang lagi dari tanggal 1 Jan),
hanya untuk membuat si bule bingung bukan kepalang. Pun bergaya ketimur-timuran merayakannya, untuk membuat lebih bingung lagi ahli tafsir yang lurus,
memangnya ada? Lantas bagaimana dong?

Anak muda hari ini mungkin tidak lagi mau memikirkannya, kita sudah kehilangan identitas di banyak kesempatan. Gaya hidup, cara bersosialisasi, cara berpakaian, dsbgnya, mau ikut barat, apa daya tak sampai,
mau pakai cara orang tua, aduh kok tidak lagi keren.
Maka baiklah, kita jadinya terbiasa: biasakan yang sudah biasa. Terlepas dari itu benar atau tidak, yang penting pragmatis, mudah dilakukan.

Tidakkah masih ada yang mau memikirkan, 10 tahun terakhir, tatanan masyarakat kita sedang berubah secara
massif. Nilai-nilai yang dipahami, norma-norma yang berlaku, massif sekali berubah. Apalagi soal relasi lawan jenis, kebebasan hidup, lebih massif lagi.

Sayangnya, bangsa yang kehilangan identitas, hanya sibuk meniru kulit luarnya saja, yang enak2 itu saja. Kita tidak mengambil etos kerja, kemandirian, sistem yang jujur, respek, dsbgnya. Hanya kulit luarnya saja.

Tidakkah masih ada yang mau memikirkan, 10 tahun lagi, jangan-jangan kita tidak bisa lagi mendefinisikan mana
nilai-nilai luhur yang pernah kita miliki.

Kita bangganya memiliki nilai2 baru, yang hanya menjiplak kulitnya saja, bergaya, sementara yg punya nilai tersebut bingung
melihat kita, karena mereka justeru mempelajari nilai2 luhur bangsa kita.

Simpel saja, soal bahasa misalnya,
besok lusa, mungkin yang bisa berbahasa jawa halus tinggallah si bule-bule. Kita? Sudah lupa.

Well, balik lagi ke tahun baru. Apa yang akan saya lakukan saat tahun baru?

Tidur--dan berharap bisa nyenyak dengan suara dentuman kembang api yang gila-gilaan.

disadur tanpa perubahan dari:

m.facebook.com/darwistereliye

Label: